sedang belajar


bogor : one day trip

date : Nov 28.2009

route : Depok station – Bogor Station (via KRL);  Bogor Station – Kebun Raya (via angkot, direct from station exit) – culinary explore (apple Pie, Klapertaart, Pizza Bakar, Macaroni Panggang, etc in walking distance)

kenyaaaaang…….

back to station, back to jakarta …

 (murah meriah dekat. merusak diet. but…. always love the ambience of green scenery…)


A

aku menunggumu

aku mencarimu

aku menemukanmu

tapi kau tak menghampiriku

karena aku tak memanggilmu


Mei 09: 7 kali ke bandara Soekarno Hatta

Dari beberapa waktu lalu memang merencanakan untuk jalan ke Garut+Bandung dan juga pulang ke Jogja. Dari rencana awal ini, mestinya aku 3 kali ke Soekarno-Hatta.

Eits, tapi ada keperluan-keperluan lain yang mengharuskanku menambah 4 kali ke Soekarno Hatta dalam bulan Mei. Yang pertama+kedua : pulang pergi hari yang sama waktu simbah kakung ku meninggal. Susahnya cari penerbangan ke Jogja hari senin (plus panik), membuatku jadi hanya kebagian naek Garuda kelas bisnis. Wah, ternyata memang lain pelayanannya. Tapi karena waktu tibanya sama saja, kalo boleh milih dan harus bayar sendiri, pastinya memilih yang lebih ramah ke budget.

oiya, ada yang lucu waktu nunggu boarding pesawat. Ada seorang wanita yang sudah (terlihat) seumuran budheku, menanyakan apakah akan ke jogja juga. Akhirnya sedikit basa-basi dan dia bercerita kalau dia baru saja datang dari Saudi. Dan akhirnya dia bertanya padaku : mbaknya juga dari Saudi? …. aduh speechless aku. Sekali-kali naek bisnis kok ya masih dikira TKI. nasib… nasib…

back to urutan. Yang ketiga : waktu jemput temen2 yang datang dari Balikpapan untuk sama-sama ke Garut. Keempat-Kelima : waktu pulang-pergi Jakarta-Balikpapan-Jakarta untuk meeting budget.  Nah, yang ke6/7, akhir bulan ini: Jakarta-Jogja-Jakarta untuk pengetan 1 tahun meninggalnya ayahku.

Kebanyakan flight ku adalah mandala, jadi di terminal 3 yang baru. Bagus loh…Tapi tetep aja, capek juga sebulan 7 kali ke bandara (mungkin karna belum terbiasa yaa…). Gimana dengan temen2 yang jadi weekly husband dan tiap weekend ke bandara itu ya ?


negeri para penggosip

Rasanya sedih kalo menonton televisi. Isinya hanya berupa berita tentang para artis sinetron atau mantan artis sinetron atau calon artis sinetron. Setelah itu dilanjutkan dengan sinetron nya sendiri. Pagi, siang dan petang acara gosip atau yang lebih sering disebut infotainment (kenapa ya, biar terkesan lebih intelek ?) ini ditayangkan. Dan hampir semua stasiun televisi memiliki slot untuk acara gosip ini. Wah, bener-bener negeri para penggosip yaa..


…ilang satu…

penghuni kampung itik akan berkurang satu :(

katanya pindah ke kampung lain, yang ikannya lebih banyak dan lebih gendhut…


someday in jakarta … (1)

- bebas dari peminta-minta termasuk pak ogah di tikungan

- punya kali yang bersih dengan bantaran sungai yang rapi dan bersih juga

- tersedia tempat istimewa untuk pejalan kaki yang bebas dari pedagang dan motor-motor nyasar

- punya pasar tradisional yang bersih dan tertata

remember : it is NOT Impossible !!

macam-macam rupa itik …

cerita di sebuah perkampungan itik ….

ada yang cerewet, ada yang pendiam

ada yang suka menelepon berjam-jam untuk bertanya macam-macam, ada yang hanya diam

ada yang suka ngambeg, ada yang bermuka tebal

ada yang suka berdandan ada yang serampangan berpakaian

ada yang sangat doyan makan ada yang mati-matian jaga badan

ada yang suka terbang kesana-kemari, ada yang suka duduk-duduk dikursi


memories with my old digicam

di halaman

halaman rumah2


batu tapak trekking

Januari 2009, agenda sudah ditandai dengan 2 lingkaran merah di tanggal 17 dan 18. Yups, aku dan temen-temen kantor akan trekking di batu tapak, sukabumi. Berangkat sabtu pagi dari jakarta, berkemah semalam, dan kembali ke jakarta hari minggu siang.

Dari hasil survey, lokasi kemahnya nyaman. Fasilitas nya bagus. Berikut cuplikan fotonya:

batutapak1

tunggu foto-foto acaranya yaa..


berhenti merokok yuks

Ketika membaca puisi ‘Tuhan Sembilan Senti’ Taufik Ismail, aku teringat kembali pada hitung2anku dulu pada besarnya konsumsi rokok.

Saat ini dipasaran beredar berbagai macam jenis rokok, baik yang kretek maupun filter. Harga eceran perbatangnya antara 500 sampai dengan 1,000 rupiah. Sedangkan harga per paknya bisa dimulai dari kisaran 3,500 rupiah.

Seandainya setiap hari satu orang merokok sebanyak satu pak rokok dengan harga 7,500, maka dalam seminggu dia akan membakar 52,500. Dan dalam 30 hari jumlah uang yang terbuang adalah 225,000 [dua ratus dua puluh lima ribu]. Bukan jumlah yang sedikit, tentunya. Dan dalam 365 hari, jumlah 2,737,500 terbakarlah sudah. Ya, tidak salah, jumlah yang terbuang percuma bersama asapnya adalah dua juta lebih tujuh ratus ribu lebih. Itu baru satu orang, jika ada 10 juta orang yang merokok, maka dalam 30 hari uang yang terbakar adalah 2,25 triliun rupiah. [yap, angka 225 diikuti dengan 10 angka nol dibelakangnya]

sedangkan membuang makanan saja kita sayang, mubazir. Jadi kenapa ada begitu banyak orang memubazirkan [bahkan membakar] uangnya?

Ah, jangan sekali-sekali berdalih menghentikan merokok sama dengan mengurangi lapangan kerja bagi para petani tembakau+karyawan pabrik rokok. Jangan pula berdalih bahwa pendapatan negara dari cukai akan berkurang. Mengapa? Akan diuraikan dibawah.

Seandainya orang tidak merokok, maka uang triliunan itu tidak akan menguap begitu saja. Tetapi uang tersebut pasti akan dibelanjakan atau disimpan. Jika disimpan maka jasa perbankan akan lebih ramai, dan ada pajak bunga atas simpanan yang akan masuk ke kas negara. Jika dibelanjakan, maka industri jasa/manufaktur selain rokok akan menjadi lebih ramai, pajak dari industri jasa/manufaktur pun akan mengalir ke kas negara. Artis-artis bintang iklan rokok pun tak akan sepi order karena tetap akan ada tawaran iklan, tapi bukan rokok. Acara infotainment pun akan tetap ramai, karna bintang iklan tetap ada, tetapi bukan bintang iklan rokok. Life goes on, as always, with cleaner and healthier air.

Jadi, marilah mari berhenti membakar paru-paru sendiri dan paru-paru tetangga. Stop merokok. Sekarang Juga.